
BIAK NUMFOR — Menjadi seorang guru tidak selalu berarti hanya berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran. Bagi Moses Makuker, pendidik muda di SMK YPK 2 Biak Numfor, pendidikan juga berarti memberikan contoh nyata tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan keterampilan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai guru pada bidang teknik, Moses tidak hanya fokus pada pembelajaran kejuruan di sekolah. Ia juga aktif mengembangkan keterampilan praktis dan kegiatan produktif, termasuk mendorong keterlibatan siswa dan generasi muda dalam bidang pertanian.
Pendekatan tersebut dilakukan karena menurutnya, pendidikan kejuruan harus mampu membekali anak muda dengan kemampuan yang dapat digunakan untuk menciptakan peluang, bukan semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan.

“Anak-anak harus dibiasakan untuk memiliki keterampilan. Jangan hanya berpikir setelah sekolah harus mencari pekerjaan. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka juga bisa menciptakan sesuatu dan membuka peluang,” demikian pemikiran yang menjadi salah satu dasar aktivitasnya dalam mendampingi generasi muda.

Bagi Moses, pertanian menjadi salah satu ruang pembelajaran yang menarik. Selain memiliki nilai ekonomi, kegiatan pertanian dapat mengajarkan banyak hal kepada anak muda, mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, kesabaran hingga kemampuan mengelola sebuah kegiatan secara mandiri.
Ia ingin menunjukkan bahwa seorang anak muda tidak harus selalu menunggu kesempatan datang. Kesempatan dapat dibangun dari apa yang tersedia di lingkungan sekitar.
Hal lain yang menarik dari sosok Moses adalah semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.
Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, ia berusaha tetap mengasah kompetensi dan mempraktikkan berbagai pengetahuan yang dimilikinya. Baginya, seorang guru juga harus terus berkembang karena dunia pendidikan dan kebutuhan generasi muda terus berubah.
“Guru juga harus terus belajar. Kalau kita ingin anak-anak berkembang, kita juga harus mau mengembangkan diri,” ujarnya.
Pandangan tersebut membuat aktivitasnya tidak berhenti pada transfer pengetahuan di dalam kelas. Ia berupaya menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan praktik dan kehidupan nyata.

Moses melihat bahwa salah satu tantangan generasi muda saat ini adalah bagaimana membangun keberanian untuk memulai.
Karena itu, ia lebih memilih mendorong anak-anak muda untuk mencoba terlebih dahulu, belajar dari proses, kemudian memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Menurutnya, tidak semua keberhasilan harus dimulai dengan modal besar. Kreativitas, keterampilan, kemauan belajar dan konsistensi justru menjadi modal penting untuk memulai.
“Yang penting berani mulai. Dari kecil kita belajar, dari kesalahan kita perbaiki. Jangan menunggu semuanya sempurna baru mau bekerja,” katanya.
Pemikiran tersebut menjadi bagian dari upayanya membangun pola pikir generasi muda agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga memiliki keberanian menjadi pelaku usaha, pekerja terampil maupun penggerak kegiatan produktif di lingkungannya.
Bagi Moses, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari nilai yang diperoleh siswa di sekolah.
Lebih jauh, keberhasilan pendidikan dapat dilihat ketika seorang siswa mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Karena itu, ia mendorong agar pendidikan kejuruan semakin dekat dengan dunia praktik, dunia kerja dan potensi yang ada di daerah.
Biak Numfor, menurutnya, memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan oleh generasi muda. Pertanian, perikanan, pertukangan, teknologi maupun berbagai sektor produktif lainnya dapat menjadi ruang belajar sekaligus ruang menciptakan peluang ekonomi.
“Kita punya banyak potensi di daerah. Anak-anak muda harus dikenalkan dengan potensi itu dan diberi kesempatan untuk belajar mengelolanya,” tuturnya.

Apa yang dilakukan Moses pada akhirnya bukan hanya tentang pertanian atau keterampilan teknik.
Lebih dari itu, ia sedang berusaha menunjukkan bahwa pendidikan dapat dimulai dari keteladanan.
Ia memilih untuk tidak hanya mengatakan kepada siswa agar rajin belajar, tetapi juga menunjukkan bahwa dirinya sendiri harus terus belajar.
Dan tidak hanya berbicara tentang kemandirian, tetapi berusaha membangun budaya produktif melalui kegiatan nyata.

Sosok seperti Moses menjadi gambaran bahwa generasi muda Biak Numfor membutuhkan lebih banyak figur yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga bersedia berbagi pengetahuan dan menjadi contoh di tengah masyarakat.
Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi tentang apa yang mampu dilakukan seseorang setelah mendapatkan ilmu.
Dari ruang kelas, keterampilan dapat tumbuh. Dari keterampilan, kemandirian dapat dibangun. Dan dari generasi muda yang produktif, masa depan daerah dapat dipersiapkan.




