
BIAK NUMFOR — Pengembangan pariwisata di Kabupaten Biak Numfor dinilai perlu diarahkan pada penguatan tata kelola destinasi dan kapasitas masyarakat, bukan hanya pembangunan fasilitas fisik.
Pemerhati dan aktivis pariwisata serta lingkungan hidup di Biak, Donny Irawan, mendorong agar setiap destinasi wisata memiliki Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang kemudian mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan.

Menurut Donny, pendampingan tidak harus seluruhnya dibebankan kepada Dinas Pariwisata. Pemerintah daerah dapat melibatkan sejumlah perangkat daerah sesuai bidang masing-masing, komunitas, maupun dunia usaha dan BUMN melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
“Tidak semua harus dibebankan kepada Dinas Pariwisata. Bisa ada SKPD yang ditunjuk untuk melakukan pendampingan sesuai kebutuhan, termasuk komunitas, perusahaan swasta dan BUMN melalui CSR,” ujarnya.

Ia menilai, pendampingan tersebut penting agar pengelola destinasi memiliki kemampuan dalam menjaga kebersihan, mengelola sampah, menata keuangan, meningkatkan pelayanan, mengembangkan kuliner lokal hingga menyiapkan pemandu wisata.
Dorong Kompetisi Antar-Destinasi, Selain pendampingan, Donny juga mengusulkan adanya lomba atau penghargaan destinasi wisata terbaik di Biak Numfor yang dilaksanakan secara rutin, misalnya satu kali dalam setahun.

Program tersebut dapat digagas pemerintah daerah maupun pihak swasta dalam bentuk Tourism Award, sehingga destinasi wisata memiliki motivasi untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pengelolaannya.
Menurutnya, penilaian tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan kondisi destinasi menjelang pelaksanaan lomba. Evaluasi sebaiknya dilakukan sejak awal hingga akhir periode penilaian agar yang terlihat adalah konsistensi pengelola dalam merawat dan mengembangkan destinasi.
Beberapa aspek yang dapat menjadi indikator penilaian antara lain kebersihan dan pengelolaan sampah, kelestarian lingkungan, manajemen keuangan, pelayanan wisatawan, kuliner, kualitas pemandu, kreativitas atraksi, promosi serta keterlibatan masyarakat.

“Jangan baru dinilai satu bulan sebelum lomba. Penilaiannya harus dilihat dari awal sampai akhir, sehingga yang muncul adalah pengelolaan yang benar-benar konsisten,” katanya.
Jangan Hanya Berorientasi pada Retribusi, Donny menegaskan, tujuan utama gagasan tersebut bukan sekadar menciptakan kompetisi, tetapi mengubah cara pandang dalam mengelola destinasi wisata.
Pengelola diharapkan tidak hanya berpikir mengenai penerimaan dari karcis masuk, tetapi juga bagaimana membuat wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik sekaligus memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar.
Dengan pengelolaan yang baik, wisatawan tidak hanya datang menikmati pemandangan, tetapi juga dapat menggunakan jasa pemandu, menikmati kuliner lokal, membeli produk masyarakat dan berinteraksi dengan budaya setempat.

“Tujuannya supaya tempat wisata di Biak semangat untuk berbenah dan bersaing secara sehat. Pariwisata harus memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi alam dan lingkungannya juga harus tetap dijaga,” jelas Donny.
Ia melihat Biak Numfor memiliki modal alam yang kuat untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan. Karena itu, penguatan kelembagaan masyarakat, pendampingan lintas sektor dan keterlibatan dunia usaha dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Bagi Donny, Biak tidak kekurangan tempat indah untuk dijual sebagai destinasi wisata. Tantangannya adalah bagaimana tempat-tempat indah tersebut dikelola secara profesional, konsisten dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan.
Narasumber dan sumber foto : Donny Irawan ( aktivis lingkungan dan pariwisata Biak Numfor )




