Di Tengah Karhutla, Tim Biak Hadapi Risiko Mortir Peninggalan Perang Dunia II

Biak Numfor, 28 Agustus 2026 — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Biak Numfor menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Selain faktor cuaca, kondisi medan, dan karakter vegetasi, personel di lapangan juga harus mewaspadai keberadaan benda-benda peninggalan Perang Dunia II yang masih tersimpan di sejumlah kawasan hutan.

Tantangan tersebut terlihat dalam penanganan Karhutla di kawasan hutan Kampung Kajasbo, Distrik Biak Timur, ketika tim menemukan sebuah mortir peninggalan Perang Dunia II. Temuan tersebut kemudian diamankan oleh personel Jibom Brimob untuk penanganan lebih lanjut sesuai prosedur keselamatan.

Danki Kompi IV Batalyon A Pelopor Biak, AKP Stefen Sabon, S.H., M.H., mengatakan keberadaan benda peninggalan perang di lokasi Karhutla menjadi perhatian serius karena dapat menambah risiko keselamatan bagi personel maupun masyarakat yang berada di sekitar lokasi.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan Karhutla di Biak tidak hanya membutuhkan kesiapan dalam menghadapi api dan kondisi medan, tetapi juga kewaspadaan terhadap potensi bahaya lain yang dapat ditemukan selama operasi di lapangan.

Kabupaten Biak Numfor sendiri memiliki sejarah penting dalam Perang Dunia II. Sejumlah kawasan masih menyimpan berbagai jejak dan peninggalan perang. Kondisi ini membuat aspek keselamatan dan kewaspadaan menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas di kawasan hutan, terlebih saat terjadi Karhutla.

Sementara itu, Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Zacharias L. Mailoa, S.T., M.M., menilai temuan tersebut semakin mempertegas pentingnya koordinasi lintas lembaga dalam penanganan Karhutla.

«“Karhutla di Biak memiliki tantangan yang lebih kompleks. Kita tidak hanya menghadapi persoalan kebakaran, cuaca dan kondisi medan, tetapi juga potensi risiko lain seperti benda peninggalan perang. Karena itu koordinasi antar-lembaga dan instansi terkait sangat dibutuhkan untuk memastikan setiap risiko di lapangan dapat diantisipasi dengan baik.”»

Zacharias menegaskan, sinergi antara Pemkab Biak Numfor, BPBD, TNI-Polri, pemadam kebakaran, instansi teknis, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan penanganan Karhutla berjalan efektif sekaligus memberikan perlindungan terhadap seluruh personel yang bertugas.

Temuan mortir di tengah operasi Karhutla menjadi pengingat bahwa karakter geografis dan sejarah Biak sebagai salah satu kawasan penting dalam Perang Dunia II membawa tantangan tersendiri bagi setiap aktivitas di lapangan.

Karena itu, kecepatan dalam penanganan Karhutla harus berjalan seiring dengan kewaspadaan dan penerapan prosedur keselamatan.

Karhutla harus dipadamkan, tetapi keselamatan personel dan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.