
Biak Numfor — Kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Biak Numfor akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi perhatian bersama. Situasi ini tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas sosial-ekonomi, transportasi, serta lingkungan.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Biak Numfor memandang penanganan Karhutla perlu dilakukan secara terukur dan berbasis data. Informasi mengenai titik panas (hotspot), arah dan kecepatan angin, kondisi tutupan lahan, curah hujan, hingga kualitas udara menjadi bagian penting dalam membaca perkembangan situasi.

BRIDA mendorong agar berbagai data tersebut dapat diintegrasikan sebagai dasar peringatan dini (early warning system) dan penyusunan rekomendasi kebijakan daerah. Dengan pendekatan ini, penanganan Karhutla tidak hanya bersifat reaktif ketika kebakaran telah terjadi, tetapi diarahkan pada pencegahan, deteksi dini, mitigasi risiko dan pemulihan lingkungan.
Menurut penjelasan Kepala BRIDA Kabupaten Biak Numfor, Frans Arwimbar, A.Md., S.E., M.Si., pada suarabiaknumfor.com kondisi kabut asap yang terjadi saat ini harus menjadi pembelajaran sekaligus momentum untuk memperkuat sistem pemantauan dan kesiapsiagaan daerah.
«“Harapan kami, kondisi ini dapat menjadi pembelajaran bersama bahwa pengendalian Karhutla membutuhkan informasi yang cepat, data yang akurat dan kolaborasi lintas sektor. BRIDA bersama seluruh staf dan tim analis riset daerah akan terus mendorong pemanfaatan data, kajian ilmiah dan inovasi sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan Pemerintah Daerah,” ujar Frans.»

Menurutnya, Karhutla perlu dipandang secara lebih luas. Bukan hanya persoalan kebakaran, tetapi berkaitan dengan kondisi ekosistem, kualitas udara, kesehatan masyarakat, keselamatan, hingga ketahanan wilayah.
“Kami berharap seluruh elemen dapat mengambil peran. Pemerintah bergerak berdasarkan data dan kajian, masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta kepedulian terhadap lingkungan, sementara seluruh pemangku kepentingan memperkuat koordinasi. Semakin cepat kita memahami pola dan sumber risikonya, semakin cepat pula langkah mitigasi dapat dilakukan,” jelasnya.
Frans menegaskan, BRIDA Kabupaten Biak Numfor bersama seluruh staf dan tim analis riset daerah akan terus berupaya memberikan dukungan melalui penguatan riset, analisis data, pemetaan risiko, inovasi dan rekomendasi berbasis bukti.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah daerah membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih kuat, sehingga penanganan Karhutla ke depan tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi mampu mengedepankan deteksi dini, pencegahan dan mitigasi berbasis ilmu pengetahuan.
BRIDA Biak Numfor — Riset, Inovasi dan Data untuk Kebijakan Daerah.




