
BIAK NUMFOR — Laut Biak Numfor menyimpan potensi besar, khususnya komoditas tuna yang hidup di perairan Pasifik. Potensi tersebut kini mulai terlihat dalam aktivitas perdagangan dan distribusi hasil perikanan, sekaligus membuka peluang bagi Biak untuk berkembang menjadi salah satu pusat industri tuna di kawasan timur Indonesia.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan, hasil tangkapan nelayan Biak telah mampu menembus berbagai pasar di luar Papua. Pada Maret 2025, misalnya, 14 ton tuna beku dikirim ke Bitung dan 14 ton lainnya ke Semarang melalui Koperasi Samber-Binyeri Maju (KSBM).

Sementara itu, hingga Juni 2025, KKP mencatat Kalamo Samber-Binyeri telah mengirim 153,82 ton ikan dengan nilai Rp2,456 miliar. Komoditas yang mendominasi pengiriman antara lain tuna, marlin, cakalang dan ikan karang.
Jejak pasar tuna Biak bahkan telah mencapai pasar internasional. Pada 2022, KKP mencatat ekspor tuna dari Biak ke Jepang sebanyak 13 kali dengan total 39 ton. Salah satu pengiriman berupa tuna jenis yellowfin mencapai 1,4 ton dengan ukuran sekitar 30–40 kilogram per ekor.

KKP kini tidak hanya melihat Biak sebagai daerah penghasil ikan. Dalam dokumen pengembangan investasi, Biak Numfor diarahkan menjadi pusat usaha penangkapan tuna dari Samudera Pasifik, dengan konsep industri terintegrasi mulai dari penangkapan, transportasi, pembekuan hingga pengolahan tuna untuk pasar domestik dan ekspor.
KKP bahkan mencatat peluang investasi industri pengolahan tuna terintegrasi di Biak senilai sekitar Rp190,19 miliar, dengan rencana produksi tuna loin 260 ton per tahun dan tuna kaleng 2.340 ton per tahun.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa potensi tuna Biak memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh: dari ikan yang ditangkap nelayan menjadi produk bernilai tambah yang diolah di daerah sendiri.
Jika penguatan armada nelayan, cold storage, rantai dingin, pelabuhan, pengolahan dan akses pasar dapat berjalan beriringan, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh nelayan.
Akan tumbuh kebutuhan tenaga kerja, transportasi, logistik, koperasi, UMKM dan industri pengolahan. Inilah yang membuat sektor tuna memiliki efek ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Dengan posisi geografis yang menghadap Samudera Pasifik dan pengalaman menembus pasar nasional hingga Jepang, Biak Numfor memiliki modal nyata untuk membangun ekonomi biru berbasis tuna.
Bukan sekadar menjual ikan, tetapi membuka peluang untuk mengolah, memberi nilai tambah dan membangun industri dari kekayaan laut sendiri.




