HUT TNI KE-81: SEMAKIN DEWASA, SEMAKIN DEKAT DENGAN RAKYAT  

Oleh: Ruth Naomi Rumkabu. Anggota DPR RI, Komisi I, Fraksi PDI Perjuangan

Pada tanggal 5 Oktober 2026, TNI genap berusia ke-81 tahun. Momentum bersejarah ini bukan sekadar perayaan kelahiran institusi. Ini adalah momen penting untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang, dan menyusun langkah ke depan. Peringatan HUT TNI ke-81 ini harus menjadi titik awal pelaksanaan evaluasi strategis yang tulus dan berkelanjutan.

Perlu ditegaskan dengan jelas: evaluasi bukanlah mencari kesalahan untuk menjatuhkan satu sama lain, apalagi antar sesama pimpinan dan anggota TNI. Evaluasi yang dimaksud adalah upaya bersama untuk memperbaiki kelemahan, mempertahankan kebaikan, dan memperkuat langkah TNI agar semakin kokoh berdiri sebagai pelindung rakyat yang hadir secara humanis dan siap bergotong royong bersama seluruh anak bangsa.

Seperti ditegaskan oleh Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan: “Kekuatan militer yang sejati bukanlah yang diukur dari banyaknya senjata yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar kepercayaan rakyat yang dijaga melalui pendekatan yang penuh rasa hormat dan kemanusiaan.” Kematangan institusi tercermin dari kemampuannya melihat ke dalam dengan kepala dingin, memperbaiki yang kurang, dan mempertahankan yang baik. (Sudarsono, J. 2019)

Khususnya di tanah Papua, kehadiran TNI harus senantiasa dijalankan dengan semangat yang humanis. Masyarakat Papua mendambakan dua hal yang saling melengkapi: kedamaian yang sejati dan pembangunan yang bermartabat. Pembangunan yang dimaksud bukan sekadar pembangunan fisik semata, melainkan pembangunan yang menghargai identitas, budaya, dan kemanusiaan masyarakat setempat. Dalam pandangan pembangunan yang berkelanjutan di tengah keberagaman budaya hanya akan berhasil jika dibangun di atas penghormatan terhadap identitas lokal. Tanpa itu, kehadiran negara dapat dipersepsikan sebagai paksaan, bukan dukungan. (Winarno, B. 2020.)

Oleh karena itu, kehadiran TNI di Papua harus hadir sebagai pelindung, pengayom, dan mitra rakyat, jangan menjadi momok yang menimbulkan ketakutan, apalagi dianggap sebagai musuh. Pendekatan keamanan yang keras tanpa kepekaan sosial justru berisiko memperlebar jarak antara negara dan masyarakat.

“Kehadiran aparat keamanan di tengah masyarakat seharusnya memperkuat ikatan persaudaraan, bukan justru memperlebar jurang perbedaan.” Ketegasan dalam menjaga kedaulatan tetap diperlukan, tetapi harus berjalan seiring dengan kelembutan pendekatan yang menghargai kemanusiaan dan budaya masyarakat Papua. (Mubyarto. 2018)

Satu hal yang juga harus menjadi fokus utama dalam evaluasi strategis di usia ke-81 TNI adalah kesejahteraan yang merata dan adil di dalam keluarga besar TNI. Jika para Pimpinan TNI, mulai dari Perwira Tinggi hingga perwira menengah hidup sejahtera, maka sudah menjadi kewajiban bersama untuk memastikan bahwa prajurit yang berada di jajaran paling bawah, yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat di Kodim, Koramil, dan khususnya para Babinsa, juga mendapatkan kesejahteraan yang layak dan setara.

Kesejahteraan yang merata di seluruh jenjang bukanlah kemewahan, melainkan fondasi keadilan di dalam institusi. Ketika keadilan dan kesejahteraan dirasakan oleh seluruh anggota tanpa terkecuali, maka nilai-nilai luhur itulah yang akan disampaikan dan dibagikan kepada rakyat dengan tulus hati. kesejahteraan anggota adalah fondasi utama moralitas dan kesiapan pasukan; prajurit yang dihargai dan sejahtera akan dengan lebih tulus menjadi pelindung rakyat yang terbaik. (Anwar, S. 2021)

Di sisi lain, kita di ingatkan bahwa menjaga kedaulatan negara dan menghormati hak asasi manusia bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru saling memperkuat ketika dijalankan dengan kebijaksanaan dan kepekaan sosial. (Soemantri, S. 2019) Sementara itu, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keamanan tetap menjadi modal utama ketahanan nasional. Tanpa kepercayaan, kekuatan sekuat apa pun tidak akan berfungsi secara optimal di tengah masyarakat.

TNI yang kuat di masa depan bukanlah TNI yang hanya mampu menjaga batas negara, tetapi TNI yang mampu membuat setiap rakyat merasa aman dan dihargai ketika negara hadir di tengah mereka. Dimulai dari introspeksi yang jujur tanpa saling menyalahkan, kesejahteraan yang adil di seluruh jenjang, dan pendekatan yang humanis, maka kedamaian yang kita harapkan di Papua dan di seluruh Indonesia akan tumbuh kokoh, dari hati setiap prajurit menuju hati rakyat.

Dirgahayu TNI ke-81.

Terus berbenah, semakin profesional, semakin sejahtera seluruh anggotanya, dan semakin dekat dengan rakyat.