
YENSAMA, DISTRIK ORIDEK — Persiapan pelaksanaan Festival Budaya Biak Melanesia (FBBM) 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Biak, tetapi juga membawa berkat ekonomi bagi para pengerajin lokal. Salah satunya dirasakan oleh para pengerajin alat musik tradisional okulele di Kampung Yensama, Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor.
Menjelang pelaksanaan festival, kebutuhan alat musik okulele untuk mendukung kegiatan budaya tersebut membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk terlibat langsung dalam proses persiapan. Di Kampung Yensama, empat pengerajin bekerja bersama menyelesaikan pesanan sebanyak 25 buah okulele dalam waktu dua hari.

Keempat pengerajin tersebut adalah:
1. Bapak Kasumasa Yensenem
2. Bapak Melkisedek Rumbarar
3. Bapak Berthus Maryen
4. Bapak Clofis Yensenem
Dengan keterampilan dan pengalaman yang dimiliki, mereka bergotong royong mengerjakan pesanan tersebut agar dapat diselesaikan sesuai kebutuhan. Aktivitas ini menjadi gambaran nyata bagaimana persiapan sebuah festival budaya dapat membuka ruang partisipasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Ribuan Okulele, Peluang bagi Pengerajin Lokal , Kebutuhan okulele yang mencapai sekitar 2.000 buah untuk mendukung rangkaian kegiatan FBBM 2026 menunjukkan adanya peluang bagi para pengerajin lokal untuk mengambil bagian dalam penyelenggaraan festival.
Pesanan sebanyak 25 buah yang dikerjakan oleh empat pengerajin di Kampung Yensama merupakan salah satu contoh keterlibatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Di balik setiap alat musik yang dibuat, terdapat keterampilan, tenaga, waktu, dan harapan agar budaya Biak terus hidup melalui generasi ke generasi.
Momentum ini juga memperlihatkan pentingnya memberikan ruang kepada pelaku usaha kecil, pengerajin, dan masyarakat kampung untuk terlibat dalam kegiatan berskala besar di daerahnya sendiri.
Festival Budaya, Bukan Hanya Perayaan
Festival Budaya Biak Melanesia diharapkan tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan identitas dan kekayaan budaya masyarakat Biak, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Keterlibatan pengerajin okulele di Kampung Yensama menjadi salah satu contoh bahwa manfaat sebuah festival dapat dirasakan sejak tahap persiapan, melalui pesanan produk lokal, pemanfaatan keterampilan masyarakat, hingga terbukanya peluang pendapatan bagi keluarga pengerajin.
Ke depan, potensi ini dapat terus dikembangkan melalui pemberdayaan pengerajin lokal, peningkatan kualitas produk, serta keberlanjutan pesanan setelah festival berakhir.
Dari Kampung Yensama, empat pengerajin menunjukkan bahwa menjaga budaya juga dapat menjadi jalan untuk menghidupkan ekonomi masyarakat.
Festival Budaya Biak Melanesia 2026 diharapkan menjadi momentum bersama untuk memperkuat identitas budaya, memberdayakan potensi lokal, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Biak Numfor.
Koresponden : Melki Rumba
FBBM 2026 — Budaya Terjaga, Ekonomi Masyarakat Bergerak, Biak Semakin Berdaya.




