KETIKA KEKUASAAN HARUS TETAP BERADAB

Opini Redaksi – Saya secara pribadi melihat pidato presiden tersebut bukan sekadar persoalan pilihan kata. Bagi saya, ada pelajaran yang jauh lebih besar, terutama bagi setiap orang yang sedang memegang kekuasaan dan amanah kepemimpinan.

Seorang pemimpin boleh tegas, boleh keras, boleh berbeda dengan para pakar maupun penasihatnya. Tetapi semakin tinggi kedudukannya, semakin tinggi pula tuntutan untuk menjaga ucapan, sikap dan martabatnya.

Para ahli boleh keliru. Penasihat boleh berbeda pandangan. Rakyat boleh mengkritik. Tetapi semuanya tetap harus ditempatkan dalam ruang yang bernama penghormatan dan etika.

Sebab ketika seorang pemimpin merendahkan orang lain, yang ikut direndahkan bukan hanya orang tersebut. Wibawa kepemimpinan itu sendiri ikut dipertaruhkan.

Inilah pelajaran penting bagi setiap pemimpin:

Kekuasaan bukan izin untuk berbicara tanpa batas.

Ketegasan bukan alasan untuk kehilangan kesantunan.

Perbedaan pendapat bukan pembenaran untuk merendahkan.

Dan jabatan bukan alasan untuk lupa bahwa kita tetap manusia yang harus menjaga adab.

Justru ketika seseorang berada di puncak kekuasaan, ia harus semakin mampu menahan diri.

Karena rakyat tidak hanya melihat apa yang dikerjakan pemimpinnya. Rakyat juga belajar dari bagaimana pemimpinnya berbicara, memperlakukan orang lain, menerima kritik dan menggunakan kekuasaan.

Jabatan pada akhirnya akan berakhir.

Tetapi teladan yang ditinggalkan seorang pemimpin akan terus hidup.

Maka, semakin tinggi kita ditempatkan oleh amanah, semakin rendah hati pula seharusnya kita dalam bersikap. Karena pemimpin yang benar-benar kuat bukan yang mampu membuat orang lain takut, tetapi yang mampu membuat kekuasaannya tetap dihormati tanpa harus kehilangan adab.