Kemarau Panjang Berdampak pada Debit Air Terjun Wabsdori Biak Barat

BIAK NUMFOR — Kemarau panjang yang melanda wilayah Biak Numfor mulai memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber air. Salah satu fenomena yang terlihat adalah menurunnya debit air pada sejumlah sumber air alami, termasuk Air Terjun Wabsdori di Distrik Biak Barat.

Pantauan di lapangan menunjukkan debit aliran Air Terjun Wabsdori mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan kondisi pada musim penghujan. Aliran air yang biasanya lebih deras kini terlihat lebih kecil, seiring dengan berkurangnya pasokan air dari kawasan hutan dan sumber-sumber air di sekitarnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana periode kemarau panjang dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem. Berkurangnya curah hujan turut berdampak pada ketersediaan air tanah, aliran sungai, hingga sumber-sumber air permukaan.

Fenomena El Niño diketahui dapat meningkatkan peluang terjadinya kondisi lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan air, lingkungan, aktivitas masyarakat hingga risiko kebakaran hutan dan lahan.

Air Terjun Wabsdori selama ini menjadi salah satu potensi alam yang memiliki nilai ekologis sekaligus daya tarik bagi masyarakat. Menurunnya debit air pada musim kemarau menjadi pengingat pentingnya menjaga kawasan hutan dan daerah tangkapan air agar tetap mampu menyimpan dan menjaga ketersediaan air.

Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak selama periode kemarau serta menjaga lingkungan sekitar, terutama dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak kawasan hutan dan sumber-sumber air.

Kondisi Air Terjun Wabsdori ini menjadi potret kecil dari dampak perubahan kondisi cuaca terhadap lingkungan di Biak Numfor.

Laporan dan pantauan: Dinny Irawan

Koresponden Suara Biak Numfor