
Biak Numfor — Tuna bukan sekadar hasil tangkapan nelayan. Di balik komoditas laut ini terdapat rantai ekonomi yang panjang dan peluang untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat Biak Numfor.
Hasil wawancara SuaraBiakNumfor.com dengan praktisi usaha sekaligus penggerak UMKM Biak Numfor, Pdt. Yan Artinus Mbaro, melihat potensi tuna Biak perlu dikembangkan lebih jauh, tidak hanya sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk segar atau beku, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi lokal.
Menurutnya, ketika tuna mulai diolah di daerah, terbuka ruang bagi UMKM untuk terlibat dalam berbagai sektor, mulai dari pengolahan, pengemasan, produk pangan siap konsumsi, kuliner hingga distribusi. Pada saat yang sama, berkembangnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi salah satu peluang pasar bagi produk pangan lokal, sepanjang memenuhi standar mutu, keamanan pangan, kontinuitas pasokan dan mekanisme pengadaan yang berlaku.

Sebagai gambaran potensi pasar, apabila satu SPPG melayani sekitar 3.000 anak, maka keberadaan 10 SPPG berarti terdapat sekitar 30.000 penerima manfaat. Jika tuna menjadi salah satu pilihan sumber protein dalam menu MBG dan digunakan, misalnya, 50 gram tuna per porsi, maka kebutuhan bahan baku secara teoritis dapat mencapai sekitar 1,5 ton tuna per hari untuk 30.000 porsi. Angka ini merupakan ilustrasi sederhana, bukan angka kebutuhan resmi MBG, karena penggunaan tuna tentu bergantung pada komposisi menu dan kebijakan masing-masing penyelenggara.
Namun ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa jika rantai pasok pangan lokal dapat dipersiapkan dengan baik, terdapat peluang pasar yang cukup besar bagi nelayan, koperasi dan UMKM Biak.

Dengan konsep tersebut, tuna dapat memiliki rantai nilai yang lebih panjang. Nelayan menyediakan bahan baku, koperasi memperkuat kelembagaan dan pemasaran, UMKM menciptakan produk bernilai tambah, sementara kebutuhan pangan seperti MBG berpotensi menjadi bagian dari pasar yang menyerap produk lokal.
Perkembangan Kampung Nelayan Modern Kalamo Samber-Binyeri menunjukkan bahwa hasil tangkapan nelayan Biak sudah mampu menembus pasar luar daerah. Koperasi Samber Binyeri Maju pada Maret 2025 mengirim 14 ton tuna beku ke Bitung dan 14 ton lainnya ke Semarang.

Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi bagaimana semakin banyak nilai ekonomi dari tuna dapat diciptakan di Biak sebelum produk meninggalkan daerah.
Industrialisasi pun tidak selalu harus dimulai dengan pabrik besar. Penguatan UMKM, koperasi, rantai dingin, teknologi pengolahan, kemasan, sertifikasi dan akses pasar merupakan bagian penting dari ekosistem industri perikanan.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan tuna Biak tidak hanya diukur dari berapa ton ikan yang ditangkap, tetapi juga dari berapa besar nilai tambah yang tinggal di daerah, berapa banyak UMKM yang tumbuh, tenaga kerja yang terserap, serta manfaat ekonomi yang kembali kepada masyarakat.
Dari laut Biak, menjadi produk bernilai tambah, menggerakkan UMKM, membuka pasar pangan lokal dan menjadi bagian dari masa depan ekonomi daerah.




